stats counter
All for Joomla All for Webmasters

Tembok Berlin atau “Antifasis perlindungan benteng” seperti yang disebutkan oleh orang-orang memiliki panjang hingga seratus mil yang memiliki perangkap dan kawat yang berduri. Selama 30 tahun, dinding itu tidak bisa ditembus bahkan ratusan upaya dilakukan untuk menyeberanginya juga banyak orang yang tewas karena usaha mereka. Berikut adalah beberapa cerita paling menyedihkan yang berkaitan dengan penyeberangan yang gagal di Tembok Berlin:

A. Pemuda Yang Meninggal Dihadapan Semua Orang

Peter Fechter masih berusia delapan belas tahun dan ingin merasakan sebuah tantangan dalam hidupnya. Rencananya sangat sederhana, ia dan seorang temannya akan menunggu sampai saat yang tepat dan kemudian berlari melintasi “jembatan kematian”, akan tetapi Peter ditembak di bagian panggul oleh penjaga dan jatuh beberapa inci dari tujuannya.

Keseluruhan drama berlangsung di depan ratusan saksi, tentara dan wartawan yang berada di sisi barat dari dinding. Peter terbaring kesakitan hingga satu jam lamanya karena tidak ada yang menolong dan akhirnya ia meninggal. Ketika akhirnya ia meninggal dunia, seorang tentara Jerman Timur mengangkat tubuhnya dan membawanya kembali ke Berlin Timur dengan diikuti oleh ribuan ejekan yang sia-sia.

B. Anak-Anak Yang Tenggelam

Ketika berusia enam tahun, Andreas Senk sengaja didorong ke dalam air oleh seorang temannya saat bermain. Andai saja waktu itu cepat ditangani, mungkin Andreas masih bisa di selamatkan. Tempat saat ia jatuh ke dalam air sangat dijaga oleh puluhan prajurit dalam kapal patroli dan menara pengawas, akan tetapi tidak ada upaya yang dilakukan oleh Jerman Timur untuk menyelamatkan anak itu. Empat orang anak telah meninggal dengan cara yang sama sebelum mencapai kesepakatan yang menempatkan tindakan pencegahan untuk keselamatan.

C. Kelinci Berlin

Kelinci-kelinci yang berkembang di jalur kematian berada di antara dua tembok. Para kelinci itu hidup tidak ada gangguan dari manusia dan para kelinci dapat bermain-main dengan bebas dan berkembang biak. Namun kemudian terjadi peristiwa runtuhnya tembok tapi bagi orang-orang Jerman ini bukanlah masalah besar, akan tetapi ini telah menjadi hukuman mati bagi kelinci Berlin.

Banyak kelinci yang terinjak-injak sampai mati oleh orang-orang Jerman yang gembira dan berusaha keras untuk mencapai orang-orang terkasih. Kelinci yang berhasil bertahan hidup dapat bersembunyi di dekat semak-semak tapi banyak juga dari mereka yang mati kelaparan.

D. Siswa Yang Rajin

Bernd Lünser adalah seorang mahasiswa yang berasal dari salah satu Universitas Berlin dan dia berusia 22 tahun. Ketika tembok dibangun, dia terdampar dan tidak mampu mencapai tempat untuk melanjutkan studinya, tapi dia masih memiliki semangat yang besar untuk melanjutkan jalannya menuju akademik.

Bernd merencanakan untuk membuat skala agar bisa turun, tapi rencananya digagalkan oleh sekelompok penjaga. Bernd berjuang dengan seorang pria yang juga ingin menuju Jerman Barat untuk membantunya dengan melakukan berbagai cara yaitu dengan menciptakan net darurat agar Berd dapat melompat tapi sayangnya perjuangan ini menyebabkan Bernd kehilangan keseimbangan saat ia melompat dan ia tewas seketika.

Related Posts