stats counter
All for Joomla All for Webmasters

Festival??? Siapa sih yang gak suka dengan acara seperti ini? Dari anak-anak sampai orang dewasa sangat menyukainya. Dalam sebuah festival gak cuma menghandirkan acara kembang api saja guys, masih ada acara-acara keren lainnya yang masih berbau adat yang akan diselenggarakan dan pastinya ini akan membuat kita lebih mengenal banyak budaya.

Banyak sekali negara-negara yang selalu mengadakan festival yang akhirnya menarik perhatian para turis dan kalau menurut mimin festival yang paling keren adalah di Jepang. Kenapa mimin milihnya Jepang? karena setiap bulannya di Jepang masih selalu eksis dalam mengadakan festival yang dinamakan matsuri.

Curhat dikit ya guys, sebenarnya sih mimin pengen banget liat langsung festivalnya namun apa daya dananya gak mencukupi hehe….. Nah, sambil nunggu mimin ngumpulin duit buat ke Jepang untuk menyaksikan matsuri, lebih baik kita mengenali salah satu matsuri yang ada di Jepang terlebih dahulu, yaitu Hina Matsuri. Nah, untuk mengetahui lebih lengkapnya, yuk ikutin mimin.

APA SIH HINA MATSURI ITU?

Di Jepang Hina Matsuri ini selalu dirayakan setiap tanggal 3 Maret. Perayaan ini diadakan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan.
Setiap keluarga di Jepang yang memiliki anak perempuan, pada perayaan ini akan memajang satu set boneka yang dinamakan hinaningyō (boneka festival).

 

Satu set dari boneka ini akan menggambarkan suasana upacara perkawinan tradisional yang ada di Jepang dan biasanya boneka ini terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang). Para boneka ini juga mengenakan pakaian kimono seperti gaya zaman Heian. Awal terciptanya perayaan ini adalah berasal dari permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri). Itu sebabnya perayaan ini disebut Festival Boneka.

Walaupun disebut matsuri, akan tetapi perayaan ini lebih mirip seperti acara keluarga yang diadakan di rumah dan hanya akan dirayakan oleh keluarga dan yang memiliiki anak perempuan. Menjelang hari perayaan , anak-anak akan membantu orang tua mereka untuk  mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang.

SEJARAH HINA MATSURI

Waktu zaman dulunya guys, Hinamatsuri selalu dirayakan setiap hari ke-3 bulan 3 menurut kalender lunisolar yang mana hari ini disebut sebagai momo no sekku (perayaan bunga persik), karena ternyata perayaan ini bertepatan dengan mekarnya bunga persik.

Semenjak Kalender Gregorian mulai diberlakukan di Jepang, perayaan Hinamatsuri kemudian ditetapkan menjadi tanggal 3 Maret. Walaupun demikian, sebagian orang masih memilih untuk merayakannya sesuai demgan perhitungan kalender lunisolar (sekitar bulan April).

Beberapa literatur klasik menuliskan tentang kebiasaan bermain boneka di kalangan anak perempuan bangsawan istana dari zaman Heian (sekitar abad ke-8). Para boneka ini dimainkan secara bersamaan dengan rumah boneka yang dibentuk seperti istana. Nama lain dari permainan boneka ini adalah hina asobi (bermain boneka puteri).

Sejak abad ke-19 (zaman Edo), hina asobi telah mulai dikaitkan dengan perayaan berbagai musim (sekku). Sama halnya dengan perayaan musim lainnya yang disebut sebagai “matsuri”, sebutan hina asobi juga berubah menjadi Hinamatsuri dan kini perayaannya mulai  meluas hingga di kalangan rakyat.

Masyarakat yang ada pada zaman Edo, harus mengetahui dan bisa tetap mempertahankan cara memajang boneka karena katanya guys tradisi ini telah diwariskan secara turun temurun sejak zaman Heian. Kalangan bangsawan dan samurai dari zaman Edo menilai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah dan sekaligus sebagai pembawa keberuntungan bagi mereka. Tradisi ini juga dianggap sebagai lambang status dan kemakmuran. Sehingga,  para Orang tua akan berlomba – lomba untuk membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin.

Di zaman Edo pada awalnya, mereka selalu menggunakan boneka yang disebut sebagai tachibina (boneka berdiri) karena boneka harus berada dalam posisi yang tegak dan bukan duduk seperti sekarang ini. Boneka dalam posisi duduk (suwaribina) mulai dikenal sejak zaman Kan’ei dan inilah yang dipakai hingga sekarang.

Semakin berlalunya waktu, boneka ini telah berubah menjadi semakin rumit tapi tetap mewah. Di zaman Genroku, orang mengenali boneka genrokubina (boneka zaman Genroku) dengan pakaian kimono dua belas lapis (jūnihitoe). Sedangkan di zaman Kyōhō, orang mengenali boneka ini dari ukuran besar yang disebut kyōhōbina (boneka zaman Kyōhō). Perkembangan lainnya adalah pemakaian tirai lipat (byōbu) berwarna emas sebagai latar belakang genrokubina dan kyōhōbina sewaktu dipajang.

Pada zaman Kyōhō, keshogunan Tokugawa berusaha membatasi kemewahan di kalangan rakyat. Boneka yang berukuran besar dan mewah ikut menjadi sasaran pelarangan barang mewah oleh keshogunan. Sampai pada akhirnya, memiliki inisiartif sendiri dalam membuat boneka berukuran lebih mini yang disebut sebagai keshibina (boneka ukuran biji poppy) dan ukuran dari boneka itu adalah di bawah 10 cm, mereka membuat ini sebagai usaha untuk tidak melanggar peraturan. Akan tetapi ternyata boneka keshibina ini dibuat dengan sangat mendetil sehingga pada akhirnya keshibina kembali menjadi boneka mewah.

Sebelum zaman Edo berakhir, orang mengenal boneka yang disebut yūsokubina (boneka pejabat resmi istana). Boneka ini juga dipakaikan kimono yang merupakan replika dari seragam para pejabat resmi istana. Prototipe boneka Hinamatsuri yang digunakan di Jepang sekarang adalah kokinbina (translasi literal: boneka zaman dulu). Perintis kokinbina adalah Hara Shūgetsu yang membuat boneka seakurat mungkin berdasarkan riset literatur sejarah. Boneka yang dihasilkan sangat realistik, termasuk mereka juga menggunakan gelas untuk membuat mata boneka tersebut.

Pada awalnya boneka Hinamatsuri ini hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri. Sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji akhirnya semua berkembang menjadi satu set boneka lengkap dengan boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan gak ketinggalan dapurnya. Sejak itu pula, boneka ini selalu dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang) dan sejak saat itulah orang-orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.

SUSUNAN BONEKA HINA MATSURI

Nah, kalau tadi kita sudah membahas tentang pengertian dan sejarah dari festival Boneka Hina Matsuri sekarang kita akan memasuki tahap penyusunan boneka tersebut. Boneka ini kemudian akan diletakkan di atas panggung bertingkat yang biasanya disebut sebagai dankazari. Masing-masing dari boneka akan diletakkan pada posisi yang sudah ditentukan berdasarkan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Panggung dan kazari ini akan diberi alas selimut tebal yang berwarna merah yang biasanya disebut hi-mōsen. Satu set boneka ini biasanya akan dilengkapi dengan miniatur tirai lipat (byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan akan diletakkan sepasang miniatur lampion (bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik akan digunakan sebagai hiasan. Nah, berikut ini adalah susunannya.

Tangga teratas

Nah, ditangga yang teratas ini akan diletakkan dua buah boneka. Kedua boneka ini dilambangkan sebagai kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama). Kalau bahasa Jepangya guys, dairi itu berarti “istana kaisar” dan hina berarti “sang putri” atau “anak perempuan”.
festival boneka jepang hina matsuri

Tangga kedua

Pada tangga kedua yang selanjutnya akan diletakkan tiga buah boneka yang merupakan pelayan puteri istana (san-nin kanjo). Ketiga puteri istana akan bertugas membawa peralatan minum sake. Boneka puteri istana yang paling tengah akan membawa mangkuk sake (sakazuki) yang diletakkan di atas sampō. Dua boneka puteri istana yang lain akan membawa poci sake (kuwae no chōshi) dan wadah sake ini biaaanya disebut (nagae no chōshi). Salah satu proses tradisi yang akan mereka lakukan adalah membuat gigi salah satu boneka puteri istana untuk dihitamkan (ohaguro) dan alisnya juga akan dicukur habis.

Tangga ketiga

Kita akan memasuki tangga yang selanjutnya. Disini akan diletakkan lima buah boneka pemusik pria (go-nin bayashi) dan ini akan berada di tangga yang ketiga. Para empat musisi masing-masing akan membawa sebuah alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat. Alat musik yang dibawa oleh masing-masing pemusik adalah taiko, ōkawa, kotsuzumi dan seruling.

Tangga keempat

Pada barisan ini akan terdapat dua buah boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) dan ini diletakkan pada tangga yang keempat. Boneka Menteri Kanan digambarkan masih muda, sedangkan boneka Menteri Kiri tampak jauh lebih tua.

Tangga kelima

Pada tangga kelima ini akan diletakkan tiga buah boneka pesuruh pria (shichō). Dari ketiga boneka tersebut masing-masing akan membawa bungkusan yang berisi topi (daigasa) yang akan dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakkan di atas sebuah nampan dan payung panjang dalam keadaan tertutup. Versi boneka yang lainnya, pesuruh pria akan membawa penggaruk dari bambu (kumade) dan sapu. Selanjutnya, sebuah kereta sapi dan berbagai miniatur mebel yang dijadikan sebagai hadiah pernikahan akan diletakkan di atas tangga di bawahnya.

HIDANGAN SAAT MERAYAKAN HINA MATSURI

Setelah selesai pajang memajang pastinya pada laper kan? Selain memajang boneka untuk merayakan perayaan mereka juga menyiapkan berbagai hindangan yang akan membuat kita menjadi lapar. Biasanya hidangan istimewa yang akan disajikan untuk para anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri antara lain: kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri), serta chirashizushi.

Dimana ada makanan pasti ada minumannya. Minuman yang mereka sediakan adalah sake putih (shirozake) yang dibuat dari fermentasi beras ketan dengan mirin atau shōchū dan kōji. Minuman lain yang disajikan adalah sake manis (amazake) yang dibuat dari ampas sake (sakekasu) yang diencerkan dengan air dan dimasak di atas api.

Gimana menurut kalian tentang perayaan Hina Matsuri ini? Keren banget kan. Sebenarnya nih ya guys masih banyak  festival-festival lainnya di Jepang yang jauh lebih keren tapi entah kenapa rasanya mimin sudah jatuh cinta dengan perayaan boneka yang satu ini. Oleh karena itu, mimin lagi nabung nih guys agar bisa kesana . Hiks, jadi pengen cepat-cepat ke Jepang. Kapan ya, bisa mengunjungi negeri Sakura ini? Doain ya, biar mimin bisa cepat kesana melihat langsung perayaannya. Tenang aja deh ntar mimin bawain oleh-oleh untuk kalian kok. hehe….